Senin, 25 April 2011

BAGAIMANA SISTEM SUMUR ARTESIS DAPAT TERBENTUK




Istilah artesis (artesian), diambil dari nama kota Artois di Perancis, orang Romawi mengatakannya Artesium, dimana untuk pertama kalinya aliran artesis (artesian flow) dipelajari.

Air artesis adalah air tanah tertekan (confined ground water) yang menimbulkan tekanan hidrostatis yang tidak normal. Kondisi geologi yang diperlukan untuk air artesis diantaranya adalah:

1. Susunan batuannya haruslah terdiri dari selang-seling antara lapisan-lapisan permeabel dan impermeabel. Di alam, susunan seperti ini biasanya terdiri dai batu pasir dan serpih. Lapisan permeabel dinamakan akuifer.

2. Susunan batuan tersebut haruslah terjungkit dan tersingkap di permukaan sehingga air dapat masuk ke dalam akuifer.

3. Cukup presipitasi dan di daerah singkapan harus ada permukaan resapan (surface drainage) agar akuifer tetap terisi.

Air tertekan dalam lapisan akuifer lebih kurang sama dengan air dalam pipa. Timbul tekanan hidrostatik, bila ada sumur atau rekahan yang bertemu dengan lapisan ini, air akan naik dan keluar menjadi sumur artesis atau mata air artesis.

Ketinggian naiknya air artesis di atas akuifer terlihat sebagai garis permukaan air artesis. Permukaan ini disebut juga permukaan tekanan artesis (artesian pressure surface). Permukaan ini sebenarnya tidak mendatar melainkan miring menjauhi daerah resapan. Disini hukum pipa U dalam fisika, yang menyatakan permukaan air dalam kedua pipa sama tinggi atau horizontal tidak berlaku. Pori-pori dalam akuifer menimbulkan gaya gesekan yang menghambat aliran dan tekanan berkurang akibat jaringan rekahan-rakahan di dalam tanah.

Jika elevasi sumurnya lebih rendah dari muka air, maka air akan keluar sendiri tanpa dipompa. Natural discharge sistem artesis yang menarik adalah yang terdapat pada salah satu gurun terbesar di dunia, gurun pasir Sahara. Sistem artesis di gurun ini tampil sebagai oase-oase yang terbentuk dari mata air artesis yang keluar melalui rekahan atau lipatan atau juga dasar gurun yang tererosi sampai atas akuifer.





Sapiie, Benyamin, dkk. anonim. Geologi Fisik. Bandung: ITB.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar